Rabu, 01 Oktober 2014




Sebagai wartawati, Dewi Andriani sering bertemu narasumber yang ia wawancara, antara lain para pengusaha. Dari mereka, gadis berdarah Minang ini sering mendapat masukan tentang bisnis. Mewawancarai para pengusaha untuk artikel profil di media tempatnya bekerja rupanya menumbuhkan inspirasinya untuk mengikuti jejak mereka. Apalagi, ia sering disindir narasumbernya lantaran hanya sering bertanya soal bisnis tapi tak ikut menjalani.

Suatu saat, ia mendapat kesempatan untuk ikut seminar kewirausahaan. Semula, ia merasa sayang ilmu yang didapatnya selama seminar tak digunakannya. Namun ia sendiri bingung usaha apa yang akan dijalankannya. Dari sekian banyak pilihan, ia akhirnya memilih bisnis fashion sesuai dengan minatnya. Kebetulan, di seminar tersebut, ia sempat bertemu dengan pemgusaha sepatu yang menawarinya untuk menjadi reseller.



Dewi pun kemudian sempat berjualan sepatu. Tapi kemudian ia memilih berhenti karena tak punya waktu banyak menjalaninya. Kebetulan, tempat kerjanya yang terakhir sering menugaskannya untuk meliput kewirausahaan. Dari situ, semangatnya untuk berwirausaha muncul kembali. Merasa punya pengalaman berjualan sepatu selama empat tahun, ia lalu memutuskan untuk memproduksi sepatu sendiri, tapi dengan bahan kain tradisional.

Untuk memulainya, ia mengajak kakaknya, Rika Yuliani, patungan modal dan terkumpul Rp 7 juta. Ia sendiri mengumpulkan modal dari bonus tahunan. Dengan sistem makloon, Dewi mendapat 100 pasang sepatu yang diberinya label R&D, singakatan dari namanya dan kakaknya. Sebelum sepatu jadi, Dewi sudah mulai memberi pengumuman pada teman-temannya. Selanjutnya, ia langsung memasang foto sepatunya di Blackberry Messenger (BBM). Tak disangka, teman-temannya ternyata tertarik, beberapa bahkan langsung mau menjadi reseller



Ternyata, setelah sampai di tangannya, sepatu pesanan itu tak seperti dugaannya. Sekitar 10 pasang di antaranya tidak sinkron antara kiri dan kanan. Ada yang sebelah kirinya tinggi daripada yang kanan. Dewi pun saat itu langsung dilanda panik. Ia terpaksa harus mengembalikan sepatu-sepatu itu untuk diperbaiki. Tapi setelah itu, tak dinyana, saat sepatu-sepatunya sudah diterima pembeli, ada yg melaporkan bahwa baru dua kali dipakai, kain dari sepatunya sobek. Ada pula yang penempatan motifnya tidak sama untuk sepatu kanan dan kiri. Bahkan ada pula yang sepatunya jebol. Dewi baru menyadari hal itu, dan otomatis membuatnya malu dan sangat stress. Apalagi saat itu ia baru gencar berpromosi. Akhirnya, Dewi pun rela untuk menukar sepatu mereka dengan yang baru. Dan ia kemudian mewanti-wanti perajinnya untuk lebih memperhatikan kualitas.

Namun di sisi lain, ada beberapa pembeli yang memesan ulang. Dewi pun bisa bernapas lega lantaran pesanan keduanya lebih bagus kualitasnya. Lalu, dengan percaya diri dia menghubungi pejabat Kementrian Perdagangan yang ia kenal dan memberitahu bahwa ia telah berbisnis sepatu. Kemudian, ia disuruh datang membawa proposal bila ingin mendapatkan dukungan dari Kemendag. Dari situ, Dewi diberi kesempatan untuk mengikuti Inacraft di bulan April 2014. Sebuah ajakan yang membuatnya terkejut sekaligus senang.



Di pameran itu ia membawa sekitar 200 pasang sepatu yang laris dibeli pengunjung. Waktu itu, ia mengeluarkan model berbahan songket, batik dan kain tenun. Ia menjualnya dengan harga Rp 120-140 ribu dan mendapat omzet Rp 20 juta. Dewi pun langsung semringah karena tak menyangka mendapat sensasi baru dalam berwirausaha. Tak hanya itu, teman-temannya dari beberapa daerah kemudian menjadi reseller R & D.

Tiap kali ada tugas ke luar kota, Dewi pun tak lupa berburu kain tradisional. Karena modalnya masih terbilang kecil, Dewi mengaku R & D yang ditujukan untuk usia 18 – 35 tahun hanya dibuat dalam jumlah terbatas setiap modelnya. Dan kini, Dewi semakin mantap melakoni usahanya.


R & D Shoes
Contact : 081808230835
bbm : 2a488432

yang ingin melihat langsung bisa datang ke stand R&D Shoes di Thamrin City Lantai 1, Blok H depan Gold's Gym, Jakarta Pusat.

1 komentar: