Minggu, 06 Maret 2016



Bangil, kota kecil di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini sejak lama telah dikenal sebagai pusat pengrajin bordir. Kota yang berjarak sekitar 35 kilometer dari Surabaya tersebut memiliki banyak pengrajin andal. Saking terkenalnya, kota ini sampai diberi julukan Bang Kodir, kepanjangan dari Bangil Kota Bordir. Di Bangil pula kita bisa menemui produsen busana pria yang hasil produksinya sudah merambah ke seluruh Indonesia. Masih mengusung kerajinan bordir sebagai pemanis model, busana atau kemeja pria berlabel ‘Nizar’ tersebut sebagian besar menggunakan bordir mesin sedang, sebagiannya lagi dikerjakan manual. Karena memang, bila semuanya mengandalkan bordir tangan jelas tidak akan sanggup, karena dalam sehari Nizar harus memproduksi sekitar 700 potong baju.

Kendati demikian, bukan berarti bordir manual dihilangkan begitu saja. Karena bordir manual itu seolah memiliki nyawa, di sana kreativitas si pembuat tercurah sepenuhnya di setiap corak maupun detail pola yang digarap. Namun, bordir manual itu digunakan bukan untuk baju yang dibuat dalam jumlah massal atau besar, tetapi hanya dalam desain-desain tertentu. Salah satunya untuk membuat master atau contoh sebelum dibuat dalam jumlah besar. Jadi, alur pembuatan busana adalah setelah para desainer membuat rancangan bordir di atas kertas gambar, lalu digandakan di atas selembar kain, baru kemudian diberi bordir. Setelah terlihat bagus dengan padu padan warna yang sempurna, barulah corak atau motif bordir tadi digandakan dan dicetak oleh mesin bordir dalam jumlah besar.


Namun, saat pertama kali didirikan oleh pendirinya, M. Syafiq Assegaf tahun 1986, Nizar justru tidak memproduksi busana pria, tetapi bordir mukena. Baru setelah sekitar tiga tahun berjalan, permintaan busana pria meningkat ketimbang mukena. Sehingga oleh Syafiq usaha mukena ditinggalkan dan beralih ke busana pria. Untuk wilayah Jawa Timur, produk Nizar boleh dibilang sudah menjadi market leader. Sang pemilik, Syafiq sendiri sudah meninggal dunia tahun 2012 lalu di usia yang masih muda. Saat ini usaha Nizar dilanjutkan oleh anak sulungnya, Syarif Husin Assegaf. Sebenarnya, bordir dulunya memang hanya digunakan sebagai penghiasan pada busana-busana wanita saja. Tetapi seiring perkembangan fashion yang begitu pesat, dunia bordir mulai merambah dan cocok pula digunakan pada busana-busana pria. Desain bordir yang menarik makin membuat elegan busananya.

Untuk membuat sebuah kreasi baru, Nizar sengaja merekrut 4 ahli gambar atau desainer. Masing-masing desainer setiap hari menciptakan desain baru. Meski tidak keempat-empatnya bisa diaplikasikan, tapi paling tidak setiap hari mereka harus membuat satu desain baru. Tahun 2015, produk Nizar juga tidak hanya hadir dalam kombinasi bordir saja, tetapi mencoba mempadupadankan antara bordir dengan lukis. Jadi, ada satu bagian sisi baju yang dilukis sesuai dengan warna baju, sementara untuk memperindah lukisan di baju tersebut, garis-garis lukisan dibingkai dengan bordir.

0 komentar:

Posting Komentar