Sabtu, 08 Agustus 2015




Industri kreatif kini menjadi salah satu primadona baru untuk mendulang keuntungan. Potensi bisnis di bidang ini masih terbuka luas untuk digarap. Kekayaan budaya dan tradisi Indonesia menjadi salah satu alasan yang masih bisa digali dan dikembangkan. Modalnya adalah kreatifitas. Seperti yang dilakukan perempuan kelahiran Bandung 10 Maret 1976 ini. Dari sekadar mengisi waktu luang di rumah dengan berkreasi, akhirnya bisa menjadi celah bisnis yang menguntungkan. Ia sukses meraup keuntungan dengan usaha Meerakatja yang dibangunnya sejak 2009. Ya, melalui medium kaca, kreasi lukisan Ratna Miranti, atau biasa disapa Mira, diapresiasi hingga pasar luar negeri. Hebatnya, ibu tiga anak ini juga tak pelit berbagi ilmu. Ia kerap mengajarkan keterampilan lewat pelatihan pada ibu-ibu rumah tangga agar produktif dari rumah.

Berawal dari keinginan untuk tetap produktif dari rumah setelah vakum bekerja dan menikah, lulusan Seni Rupa ITB ini pun bertekad untuk kembali berkarya. Saat itu, Mira membeli peralatan cat untuk mengecat kain. Sayangnya, ia kurang teliti. Ternyata, bahan yang ia beli bukan untuk mengecat kain melainkan mengecat kaca. Terlanjur dengan kesalahan kecilnya, istri dari Andreas Wibowo ini meneruskan berkreasi dengan medium botol kaca bekas yang ia miliki. Hasilnya di luar dugaan Mira, sebuah lukisan kaca yang sangat memikat. Ia pun tertarik lebih memperdalam dan mempelajari seni melukis dengan menggunakan medium kaca.

Beberapa hasil lukisan kaca yang ia kreasikan pada botol bekas sirup dan minuman serta toples ternyata dilirik teman-temannya. Melihat peluang bisnis yang ada di depan mata, Mira pun mulai aktif mengunggah foto hasil karyanya di akun Facebook pribadi dan menerima pesanan. Benar saja, dalam sekejap, permintaan pun berdatangan. Agar hasil lukisan yang dihasilkan lebih maksimal, Mira pun sengaja ikut kursus melukis pada medium kaca yang ada di kota Bandung. Selama satu setengah bulan, Mira belajar teknik dan tips agar lukisan kacanya maskimal. Dan ternyata benar, banyak trik dan teknik yang akhirnya ia pelajari dan dapatkan dari kursus itu. Mira jadi lebih tahu bagaimana perlakuan yang benar terhadap medium kaca agar cat lebih awet menempel.

Atas dukungan suami, Mira pun rutin memproduksi dan menawarkan koleksi lukisan dengan berbagai medium kaca. Di akhir tahun 2009, ia banyak membuat toples lukis untuk Natal dan akhir tahun, dan ternyata sangat laku. Tidak hanya di toples, tapi juga ada yang di gelas dan pernak pernik kaca lainnya. Responsnya lumayan, apalagi penjualannya saat itu masih dari mulut ke mulut, sebelum akhirnya ia membuat website untuk produk-produk lukisan kacanya. Tahun 2010, Mira pun berinisiatif mengikuti pameran Inacraft yang diselenggarakan di Jakarta dan berusaha mencari pembeli potensial. Di pameran yang pertama kali ia ikuti itulah, Mira membawa nama Meerakatja, yang rasanya terdengar pas untuk produknya.

Di pameran Inacraft, Mira bertemu banyak potensial buyer, salah satunya Coca Cola. Mereka minta dibuatkan lukisan 20 botol Coca Cola bertema batik. Dan ternyata hasilnya memuaskan. Enam bulan kemudian, pihak Coca Cola menghubunginya lagi dan memesan 1.100 botol dalam waktu 1,5 bulan. Melihat potensi bisnis yang bagus, Mira pun menekuninya dengan serius. Ia bahkan mengajak beberapa mahasiswa seni rupa untuk bergabung dan membantunya menyelesaikan pesanan dari Coca Cola agar dapat selesai tepat waktu. Sejak saat itu, Nama Meerakatja pun akhirnya mulai dikenal dan memiliki beberapa jaringan.

Sejak mengikuti pameran Inacraft itu pula, banyak yang kemudian mengajaknya untuk pameran di tempat lain, mulai dari pemerintah hingga swasta seperti Disperindag, American Women Association, Himpunan Masyarakat Pengrajin Indonesia. Dan kini ia pun menjadi vendor tetap Coca Cola dan Prudential Jakarta untuk membuat kerajinan dari kaca sebagai suvenir dan merchandisenya. Mira mengakui, ia memang bukan pionir dalam bisnis ini, yang ternyata cukup banyak kompetitornya. Maka, ia pun perlu memberikan inovasi di setiap produknya. Semua medium kaca sudah pernah ia lukis, mulai dari cermin, lampu, toples, dan gelas.

Soal harga, Mira meyakinkan bahwa harga produknya masih terjangkau dibanding beberapa produk sejenis. Setiap karya kerajinan memang pasarnya berbeda, apalagi ini juga termasuk seni. Dulu Mira menawarkan toples dengan harga Rp 50.000, namun sekarang sudah mulai dari Rp 150.000. Agar produknya berbeda Mira pun mencoba mengeksplorasi kaca dengan bentuk-bentuk asimetris. Selama menjalani bisnis ini, persaingannya memang terus meningkat. Bahkan ia juga mengalami beberapa produknya ditiru. Alhasil, sekarang ia bermain dengan produk yang berbeda dan susah ditiru. Karena menurut Mira, karya seni itu sentuhannya harus personal, jadi itulah yang harus ia eksplor lebih dalam.

Supaya produknya memiliki bentuk yang berbeda dan tidak ditiru, Mira pun memberikan sentuhan personalnya. Ia jadi lebih kreatif mengeksplor bahan baku. Misalnya untuk medium botol, ia sengaja merusaknya terlebih dahulu baru kemudian ia recycle., lalu dibuat lagi dengan bentuk-bentuk yang tidak normal. Itu salah satu inovasi yang ia lakukan. Mira mengaku, semakin sering bermain dengan sentuhan yang inovatif, ia semakin termotivasi untuk kreatif. Mira menambahkan, produk Meerakatja memang memiliki pasar tertentu. Ia sudah memiliki mapping untuk penjualannya. Selain itu ia juga memiliki pengalaman mempromosikan produknya hingga lintas benua. Perlahan, ia memiliki jaringan dengan American Women Association dan dengan beberapa organisasi dunia lainnya. Jadi, ia sering diajak pameran ke Amerika, Inggris, Jerman, Australia dan negara-negara lain. Dari situ juga ia mempelajari produk apa yang tepat dan disukai masing-masing negara tersebut.

Sayangnya, selama ini produk yang bernilai seni ini masih belum jadi juara di negara sendiri. Menurut Mira, apresiasi yang ia terima di luar negeri jauh lebih baik daripada di pasar lokal. Bahkan ia memiliki banyak pengalaman menarik yang tidak bisa dilupakan. Salah satunya, saat mengikuti pameran di Jerman, ada orang yang seharian berada di depan stan-nya. Orang itu sangat mengagumi dan mengamati produknya dengan detail. Tapi ternyata, meski ada keinginan untuk membeli, tapi orang itu mengurungkannya. Karena ia juga adalah seorang wisatawan yang tidak bisa membawa barang pecah belah. Mira pun tak pelit berbagi informasi kepada orang itu tentang proses penciptaan karyanya. Dan pada akhirnya, keesokan harinya orang itu kembali lagi karena tidak tahan untuk memiliki produknya.

Bagi Mira, banyaknya apresiasi yang ia terima juga menjadi motivasi terbesar agar bisa berkarya lebih baik. Tantangannya saat ini justru dari pasar lokal. Setiap pameran, produknya selalu dibandingkan dengan produk Cina dan ditawar murah. Sampai hari ini pun hal itu masih terus terjadi. Biasanya secara pelan-pelan Mira menjelaskan bahwa produk handmade itu memang lebih spesial. Agar lebih memudahkan, tak jarang Mira juga mengajak mereka untuk mencoba membuat sendiri, agar bisa tahu prosesnya. Bertahan lebih dari 5 tahun di bisnis ini juga membuat Mira lebih paham seluk beluk usaha yang dijalankan. Ia pun optimis, potensi bisnis ini ke depannya besar. Tidak heran, permintaan kursus ataupun pelatihan banyak menghampirinya. Mira tidak akan pelit berbagi ilmu agar industri kreatif ini bisa berkembang, khususnya glass painting karya Indonesia. Agar semakin dikenal banyak orang.

Mira juga memberikan kursus kepada ibu-ibu rumah tangga yang tertarik belajar melukis dengan medium kaca. Untuk mengikuti kursus ini, minimal 5 orang sudah bisa memanggilnya. Biayanya mulai Rp 800.000. Sementara untuk pelatihan dalam jumlah besar bisa disesuaikan. Yang terjauh, ia pernah memberikan pelatihan kepada ibu-ibu Bhayangkari di Ternate dan Banjarmasin. Ditambahkan oleh Mira, saat memberikan pelatihan ia melihat bahwa para ibu rumah tangga sebenarnya mampu mengerjakan bisnis ini dari rumah asal telaten dan sabar. Ini memang bisa menjadi salah satu bisnis yang cocok dikerjakan oleh ibu rumah tangga. Bahkan kadang, peserta kursusnya setelah berhasil membuat kerajinan ini, mereka lalu menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga produk Meerakatja. Mira pun tak mempermasalahkan, karena produk handmade itu memang sebenarnya tak ternilai.

Sebagai entrepreneur sekaligus ibu rumah tangga, Mira mengaku banyak keuntungan yang didapat dari bisnis yang dirintisnya ini. Bisnis ini tak membuatnya kehilangan banyak waktu meski ia harus mengasuh tiga anak, Rangga, Tabitha, dan Bianca. Ia bisa berkarya dari rumah dan terus konsisten berbisnis. Itu tekadnya. Apalagi peluangnya juga masih terbuka. Ke depan, Mira ingin bisnisnya semakin maju, dan Meerakatja bisa tetap eksis dan berkembang, menjadi vendor di banyak perusahaan besar. Ia juga berharap, pemerintah semakin mendukung UMKM industri keratif, khususnya glass painting, agar semakin dikenal di luar negeri.





1 komentar: