Minggu, 17 April 2016


Saat Seblak Oces dimulai pada tahun 2012 silam, masih jarang yang berjualan seblak. Menurut Nia si perintis usaha ini, di keluarganya memang sering membuat makanan yang aneh-aneh. Contohnya, sang ayah yang pernah membuat seblak dari kerupuk udang. Suatu hari, ia sempat membuat seblak itu untuk disuguhkan kepada teman-temannya yang datang ke rumah. Karena seblak buatannya itu ternyata disukai, Nia lalu mencoba menjualnya. Untuk mendapatkan nama ‘Oces’, dipilih lantaran semasa kecil tingkah Nia tak bisa diam alias oces dalam bahasa Sunda. Sebagai langkah awal, Nia berjalan di depan rumah orangtuanya selama beberapa bulan pertama. Tak sedikit tetangga yang mengatakan, makanan yang dijualnya aneh karena menggunakan kerupuk sebagai bahannya. Namun, lebih banyak respons positif yang ia terima, sehingga pembelinya makin lama makin banyak. Saat itu Nia menjual seblak buatannya dengan harga Rp 4000 per porsi.

Setelah itu, Nia mulai menjual seblak dengan gerobak kaki lima di daerah Purnawarman, dekat Bandung Electronic Centre (BEC). Seblak yang pembuatannya kala itu sudah dibantu oleh ibunya, tak lagi menggunakan kerupuk udang seperti sebelumnya, melainkan diganti dengan kerupuk warna-warni. Seblak sendiri memiliki dua versi, yaitu kering atau kuah nyemek dan kuah basah. Dan Seblak Oces merupakan seblak basah yang berisi kerupuk, siomay, batagor, ceker, dan bakso. Awalnya, penjualan Seblak Oces di pinggir jalan naik-turun antara 5-10 porsi per hari. Namun, respons positif yang mulai banyak berdatangan membuat seblak ini makin banyak penggemarnya. Karena salah satu bumbunya menggunakan kencur, banyak orang lewat yang kemudian mampir dan mecoba karena penasaran apa yang Nia jual sehingga bearoma kencur. Dan banyak pula yang awalnya bertanya, apa itu seblak ?


Akhirnya Seblak Oces berhasil mencapai standar penjualan minimal 25 porsi per hari. Promosi dari mulut ke mulut turut membuat Seblak Oces makin laris. Kini dalam sehari, Seblak Oces bisa laku sampai 400 porsi. Bahkan, sebelum buka pun sudah ditunggu pembeli. Setahun setelah berjualan di Purnawarman, Seblak Oces lalu membuka cabang di depan kampus Universitas Islam Bandung, di Jalan Tamansari. Perkembangan yang pesat membuat Seblak Oces setelah itu membuka cabang lagi di daerah Pasir Kaliki, Jalan Dipati Ukur, dan Antapani. Masing-masing cabang itu dikelola oleh Nia sendiri, dibantu kakak dan saudara-saudaranya. Setiap cabang memiliki satu pegawai. Meski kini mulai banyak orang yang mengikuti Seblak Oces dan situasi ekonomi sedang tak menentu, Nia sama sekali tak masalah. Hal itu justru membuat dirinya dan keluarganya terus berpikir lebih maju dan berinovasi.

Lagipula, menurut Nia, keberhasilan yang ia rasakan saat ini sama sekali di luar perkiraannya. Biasanya, makanan yang aneh-aneh di Bandung, hanya ‘meledak’ di awal penjualan saja, setelah itu cepat sekali hilang. Paling hanya bertahan satu tahun. Namun, Seblak Oces bisa bertahan sampai sekarang dengan kondisi yang banyak kompetitor, menurutnya sudah cukup bagus. Nia pun malah merasa senang dengan banyaknya orang yang berjualan seblak, termasuk di luar kota Bandung. Itu berarti makanan kreasi keluarganya diakui banyak orang.


Bila awalnya hanya menjual seblak biasa, sejak pertengahan 2013 Seblak Oces juga ditambahi dengan ceker dan bakso. Harga per porsi untuk seblak biasa Rp 8000, ditambah ceker ayam Rp 10.000, dan ditambah ceker plus bakso Rp 12.000. Dalam sehari, masing-masing cabang bisa menjual 70-100 porsi. Meski kelasnya kaki lima, Seblak Oces juga rajin mengikuti bazar di berbagai kampus dan berpromosi di media sosial Twitter dan Facebook. Maka tak heran bila banyak pembeli Seblak Oces yang datang dari luar kota terutama Jakarta.

2 komentar: