Minggu, 14 Agustus 2016

Tak bisa dipungkiri, ternyata kehadiran usaha kecil dan menengah (UKM) serta pewirausaha menjadi modal untuk pertumbuhan ekonomi negara yang kuat. David McClelland, seorang pakar yang terkenal dengan teori kebutuhannya, mengungkapkan, sebuah negara membutuhkan setidaknya dua persen pelaku wirausaha dari total populasi untuk mempertahankan pertumbuhan optimal perekonomiannya. Khusus untuk para perempuan pengusaha, ada cerita unik yang bisa dikulik. Di Indonesia, jumlah pengusaha perempuan lebih banyak berada dalam skala mikro dan kecil. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM pada akhir 2015 tercatat, dari sekitar 52 juta pelaku UKM di seluruh Indonesia, sebanyak 60 persen usaha dijalankan oleh perempuan. Maka tak heran, bila sekarang kita makin sering melihat perempuan pengusaha bermunculan. Ada kekuatan tersendiri dari kaum perempuan yang memang menjadi modal kuat untuk menjadi pelaku wisausaha tangguh.

Seperti yang diceritakan salah satu perempuan pengusaha kondang Indonesia, Dewi Motik Pramono. Terlahir dari keluarga pengusaha membuat mantan None Jakarta ini merasa sangat bersyukur. Dia mendapatkan dukungan dan kebebasan ketika memutuskan mengikuti jejak dari keluarga besarnya sehingga bisnis yang dijalaninya dapat berkembang dengan baik. Menurut wanita kelahiran 10 Mei ini, menjadi perempuan bukan berarti menjadi halangan terlibat dalam dunia bisnis Indonesia yang dulu memang dikuasai oleh para pria. Yang penting adalah bisa bersikap profesional dalam menjalaninya. Sebagai panutan, pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia ini mengaku terinspirasi dari Siti Khadijah dan Siti Aisyah, para istri Nabi Muhammad SAW. Melalui keduanya, tertama Khadijah, Dewi belajar bagaimana menjadi perempuan pengusaha yang begitu sukses dan sangat dihormati oleh orang lain.


Perilakunya menjadi panutan tidak hanya dalam berbisnis, tapi juga dalam berkeluarga. Menurut Dewi, Khadijah dapat menunjukkan bagaimana peran perempuan mandiri yang tidak lupa tugasnya sebagai seorang istri. Meski Khadijah sudah sukses dengan bisnis yang dibangunnya, ternyata peranan sebagai perempuan yang sudah menikah tidak ditinggalkan. Dia tetap menjalankan tugas dan membagi waktu untuk mengurusi masalah keluarga di samping bisnis yang dijalani. Dewi menegaskan, pada era teknologi sekarang, seharusnya lebih mempermudah perempuan untuk menjadi pengusaha. Hanya dengan modal keberanian pun semua bisa dilakukan. Asal ada keinginan dan mencoba berusaha mengenalkan apa yang ingin digeluti, bantuan teknologi akan lebih mudah membantu dalam memulai bisnis.

MIFTI RIZKIANA ROCHMAYANTI : Pemilik Abiya Pasta.

Melihat kebutuhan masyarakat yang ingin segalanya serba instan dan praktis, Mifti Rizkiana Rochmayanti seolah melihat peluang baru yang amat potensial. Berfokus pada dunia kuliner, Mifti lalu mengembangkan makanan siap saji yang memang sedang digandrung masyarakat Jakarta. Dia memulainya dengan produk-produk makanan beku tanpa pengawet dan MSG, seperti jenis-jenis katsu yang terdiri atas ayam dan udang. Setelah produk Dapur Bento 354 yang ia miliki memiliki pasar sendiri, ternyata Mifti melihat masyarakat pun mulai menyukai masakan dengan olahan pasta. Boleh dibilang inilah lahan baru bagi perempuan lulusan perguruan tinggi Islam negeri di Jakarta ini untuk memperkenalkan Abiya Pasta atau dikenal dengan Abiyasta dengan menu andalan fusili bolognese.


Baginya, mengusung masakan cepat saji yang sehat menjadi nilai lebih untuk bersaing dengan bisnis kuliner lainnya yang sudah dan akan datang. Kuliner merupakan lahan yang luas sehingga pesaing itu tidak akan ada habisnya. Untuk menghadapinya, Mifti merasa harus terus bersikap positif, seperti terus mengembangkan jenis dan varian. Mifti pun berusaha menjaga konsistensi rasa dari tiap masakan yang dibuat, sebab bagaimanapun ketika orang merasakan masakannya pertama kali dan ternyata menyukai, dia akan berharap mendapatkan rasa yang enak lagi ketika akan mencoba untuk yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

Mifti mengaku, mengembangkan bisnis kuliner memang tidak mudah sebab berhubungan dengan selera lidah orang yang sangat berbeda-beda. Keluhan menjadi hal yang biasa ketika produk yang diterima pelanggan ada sedikit kekurangan. Meski begitu, keluhan tersebut harus diterima dengan sikap yang positif, kemudian menjadi cambuk baginya untuk lebih memaksimalkan produk yang dipasarkan. Meski sibuk dengan bisnisnya, sebagai seorang wanita yang sekaligus ibu rumah tangga, Mifti pun berusaha untuk tetap bisa membagi waktu sebaik mungkin. Saat waktunya untuk istirahat, ia pun harus beristirahat. Termasuk mengurus suami dan anak menjadi perhatiannya, karena bagaimanapun, menjadi seorang istri memiliki kewajiban untuk mengurus suami dan anak ketika di rumah.


Beruntung, sang suami juga turut mendukung usahanya. Bahkan, sang suami dengan sukarela akan membantu permasalahan modal dan pemasaran bisnis kuliner yang ia rintis sejak awal 2016 ini. Mifti menyadari, dirinya bisa memproduksi tapi tidak bisa memasarkan, dan kebetulan suaminya mampu melakukan hal itu, hingga akhirnya usahanya bisa berjalan. Sampai saat ini, Mifti masih berdua saja dengan suaminya untuk mengurus pesanan yang datang. Memang diakuinya, dengan pesanan yang terus berdatangan dan jumlahnya meningkat cukup membuatnya kewalahan. Kendati demikian, dia belum berencana untuk merekrut tenaga tambahan. Rencana ke depannya, bila usaha pastanya ini lancar, ia ingin sekali kelak bisa mempunyai kedai kecil khusus untuk berjualan pasta.

LINDA FITRIA : Pemilik Toko Daring Kerudung @lindascaft


Mengawali dengan merintis belanja daring (online shopping) yang menjual kerudung saat ia masih di semester empat sebuah perguruang tinggi swasta di Cirebon, Linda sudah merasa sangat tertarik dengan dunia bisnis. Bahkan, aktivitas kuliahnya sempat kedodoran gara-gara ia keasyikan berjualan. Melihat perilakunya yang tidak fokus itu, ibunya pun sempat memberikan tawaran untuk melepas kuliah atau fokus saja untuk berdagang. Linda pun memilih untuk menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Selepas kuliah, entah mengapa dia sempat melupakan keinginan berbisnis dan memilih ingin bekerja di tempat orang lain saja.

Namun, saat dalam masa pencarian kerja, Linda sempat diminta kakaknya untuk menemani berbelanja di pasar, dan sebagai imbalan dia diberikan dua buah kerudung. Kemudian, secara tidak sengaja, dia melihat selebgram yang ternyata memakai kerudung yang sama dengan yang diberikan kakaknya. Hingga akhirnya, kerudung pemberian itu ia jadikan profil picture salah satu media chatting. Rupanya, teman-temannya banyak yang akhirnya meminta kerudung itu.

Semenjak itu, lulusan fakultas keguruan ini memulai bisnis kerudung dengan melihat tren yang dimunculkan oleh selebgram. Dengan harga di bawah pasaran, pembeli yang mampir ke lapak daringnya pun semakin banyak. Modal awal sebanyak Rp 2 juta dipinjamkan oleh ibunya untuk berbelanja. Dan sejak Ramadhan tahun 2016, Linda mencoba membuat produksi kerudungnya sendiri. Dengan modal pelanggan yang sudah tersebar di seluruh Indonesia, bahkan dia pernah menerima pesana dari Taiwan, perempuan kelahiran Cirebon ini membeli bahan dengan motif yang memang sedang tren. Selanjutnya, dia akan menyewa penjahit yang akan membentuk bahan tersebut menjadi jenis model kerudung yang diinginkan.


Meski diakuinya dengan membeli bahan sendiri jadi lebih mahal, Linda merasa tidak ada kerudung yang sulit terjual karena kerudung yang dibuat memang sesuai permintaan pembeli. Hasil penjualan pun semakin meningkat. Terbukti, selama Ramadhan hingga Lebaran, ia dapat meraup omzet hingga Rp 20 juta dari penjualan ke beberapa toko daring dan lapak kecil di sekitar rumahnya. Tapi, walau tampak menyenangkan berdagang, ternyata sebagai pedagang yang memiliki lapak daring, membuatnya harus berhadapan dengan penipuan. Linda bercerita, suatu ketika dia memperoleh pesanan dari seseorang yang berdomisili di Mamuju, Sulawesi Barat. Tanpa tanggung, orang itu memesan kerudung hingga nominalnya mencapai sekitar Rp 600 ribu. Sebelum dikirim, pembeli itu sudah mengirim resi pembayaran. Tanpa mengecek terlebih dahulu, Linda pun mengirim barang ke alamat yang dituju. Ternyata, selang beberapa hari, dia memeriksa dan rupanya bukti transfer itu palsu. Linda pun seketika mengecek kembali pengiriman. Paketnya memang sudah berada di Mamuju, hanya belum dikirim ke alamat yang dituju. Setelah melalui proses beberapa lama, akhirnya barang tersebut bisa kembali.

Setelah peristiwa itu, Linda mengaku lebih hati-hati dan waspada. Mengecek bukti pembayaran sebelum pengiriman barang selalu dilakukan, termasuk bersikap curiga jika ada pembeli yang tidak menawar dan memberikan keleluasaan buat dia memilihkan jenis kerudung yang akan dibeli. Karena ternyata, bisnis secara daring memang tidak selalu mulus, banyak sekali upaya penipuan di sana. Hingga sampai saat ini, pemilik toko daring @lindascraft ini memilih memegang sendiri untuk urusan persiapan hingga pengiriman meski telah mengalami peristiwa tersebut. Menurutnya, mencari seseorang yang bisa dipercaya sangat sulit dan pekerjaan seluruhnya pun diakuinya masih bisa ditangani sendiri meskipun setiap hari ia harus menghabiskan waktu hingga pukul 23.00 untuk menyelesaikan pekerjaannya itu.  

0 komentar:

Posting Komentar