Minggu, 01 Maret 2015




Berbagai prestasi diraih Dra. Betti Risnalenni, MM, pendiri Kelompok Belajar (KB), TK dan SD Insan Kamil, Bekasi. Begitu banyak perjuangan ibu 5 anak ini mendirikan sekolah. Gara-gara salah satu anaknya tak bisa masuk ke sekolah mahal, Betti pun bertekad membangun sekolah yang terjangkau dengan fasilitas bagus. Prinsip hidupnya adalah tak pernah mengeluh lelah sebagai pengajar.

Sosok Betti memang begitu lekat dengan dunia pendidikan. Bergelut sejak tahun 1991, lulusan IKIP Jakarta ini telah mendapatkan banyak penghargaan. Mulai dari guru dan kepala sekolah berprestasi se-Bekasi, juara 1 tokoh wanita berprestasi di bidang pendidikan dari walikota se-Bekasi, dan juara 1 wirausaha se-Jawa Barat. Dunia mengajar memang hal yang tak asing baginya. Selain sebagai guru dan kepala sekolah, ia juga sempat dilatih pengajar dari Malaysia untuk mengajar aritmatika dan kemudian membuka kursusnya. Betti merupakan orang ke-6 yang membuka kursus aritmatika di Indonesia. Awalnya, ia hanya punya tiga murid karena aritmatika saat itu belum banyak dikenal orang.

Tak patah arang, Betti terus gigih mengenalkan aritmatika dengan membagikan brosur sekaligus memperagakan alat aritmatika di saat pembagian rapor di sekolah. Tak sia-sia, Betti bisa mendapatkan murid sampai 400 orang tahun 1998. Bahkan sampai memiliki 24 cabang dan membuat sendiri buku aritmatika. Sambil berjualan buku, ia juga memberi training gratis bagi orang yang ingin membuka kursus. Selanjutnya, salah seorang yang membuka kursus tersebut menawarkan pada Betti untuk mendirikan TK di bilangan Bantar Gebang. Betti yang sudah memiliki Yayasan Insan Kamil ini awalnya menolak karena tidak memiliki biaya. Kalaupun membuka TK ia menginginkan yang bagus kualitasnya. Awalnya, di Maret 2003, Betti mengontrak sebuah rumah dahulu untuk mendirikan TK-nya. Namun baru setahun berjalan ketika masa kontraknya habis, si pemilik rumah tidak mau memperpanjang kontrakannya lagi. Untungnya saat itu ada orang yang menawarkan rumah dengan harga Rp 23 juta, sehingga TK-nya pun akhirnya di pindahkan ke rumah tersebut.

Setelah itu, Betti ditawarkan membeli tanah di sebelah TK itu. Ia pun kemudian nekat membeli dengan uang muka Rp 1 juta. Tanpa dinyana, tak lama ia ditimpa musibah kecelakaan yang menyebabkan mukanya hancur. Setelah pengobatan dan istirahat selama 6 bulan, kemudian ia baru bisa menanyakan kembali kondisi tanah itu. Ternyata lahan tersebut tak juga dibeli orang. Betti pun akhirnya mencicil pembelian lahan senilai Rp 48 juta itu. Lalu ada yang menyarankannya membangun SD. Betti berpikir itu sebuah ide yang bagus, apalagi ia juga didukung suaminya, Drs Tatan Suherman yang juga seorang guru. Akhirnya, di tahun 2004 ia pun mendirikan sekolah. Meski belum ditembok, di daerah itu sudah banyak murid yang mendaftar.

Berbagai kendala sempat Betti temukan saat membangun sekolah. Misalnya, ia harus berutang dengan tukang bangunan yang pembayarannya dicicil. Atau harus menggadaikan emas, sampai-sampai ia menjadi langganan pegadaian. Bila sudah punya uang, emas itu ia tebus, lalu digadaikan lagi bila kembali tak memiliki uang. Selain itu ia juga banyak berharap dari penjualan buku aritmatika. Caranya,  ia memberikan training gratis, tapi berharap peserta mau membeli bukunya. Ilmu aritmatika yang ia ajarkan menggunakan sempoa, metodenya bagus, namun memang tidak semua guru telaten mengajarnya. Tapi dengan kursus hasilnya akan lebih bagus, karena muridnya lebih kecil, beda dengan di kelas.

Betti mengaku, tak pernah punya uang yang mengendap lama lantaran selalu diputar untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Bahkan gaji suami juga kadang dipakai dulu olehnya untuk menggaji guru di sekolahnya. Namun sebenarnya, Betti sendiri tidak pernah khawatir soal uang. Ia yakin, rezeki itu selalu datang dari Tuhan dengan cara apapun. Misalnya saja, kalau susu anaknya habis, ada saja yang membeli buku aritmatikanya, sehingga uangnya bisa ia belikan susu untuk anak. Meski demikian, Betti tetap bertekad untuk mendirikan sekolah yang bagus dengan biaya terjangkau. Kursi belajarnya pun harus mirip dengan sekolah mahal sehingga ia harus membuatnya sendiri. Bahkan ia ikut mengamplas sendiri kursi-kursi itu yang sebanyak 60 buah.

Keinginan Betti untuk mendirikan sekolah seperti itu bukan tanpa sebab. Betti pernah merasakan pengalaman tak enak. Ia pernah mendaftarkan anaknya di sekolah mahal, tapi tidak diterima karena latar belakang pekerjaannya yang dianggap kurang mampu untuk menyekolahkan anaknya di sana. Meskipun menurutnya ada juga sekolah yang isinya semua anak orang kaya, tapi tetap menerima anak dari panti asuhan. Itu karena pemiliknya adalah orang kaya yang masih mau menolong orang tak mampu agar bisa menikmati sekolah bagus. Hal itulah yang memicu Betti untuk membangun sekolah bagus agar orang tidak mampu juga bisa merasakan pendidikan di sekolahnya. Satu kelasnya hanya terdiri dari 30 murid saja.



Lalu, apa keistimewaan KB, TK, dan SD Insan Kamil ini ? Betti berujar seni dan permainan tradisional menjadi keunggulannya. Ia memang menginginkan murid-muridnya harus senang bermain dan seni. Ia ingat pengalaman masa kecilnya yang terlalu dilindungi, tidak boleh main hujan atau becek-becekan. Tapi sekarang, ia membebaskan anaknya agar jangan sepertinya saat masih kecil. Keunggulan lainnya adalah, adanya tradisi salaman pagi dan hafalan juz amma. Betti berpikir, kadang ada anak yang kalau berangkat sekolah dalam keadaan belum siap. Ada yang sambil marah atau masih mengantuk. Tapi, begitu di sekolah disambut dan disapa hangat dengan salaman pagi oleh gurunya, anak-anak bisa jadi senang dan semangat sekolah. Selain itu, Betti juga menekankan adanya kegiatan ekstrakurikuler yang beragam. Mulai dari olahraga voli, tenis meja, sepak bola, bulu tangkis, drum band, seni tari, pramuka, yang semuanya gratis tidak dipungut biaya. Setiap hari Jumat, sekolah juga menggelar kegiatan yang bersifat fisik, seperti senam, permainan tradisional egrang atau congklak. Karena anak-anak sekarang banyak yang tidak mengenal permainan tradisional seperti apa.

Murid-murid pun diajarkan berwirausaha waktu penerimaan rapor. Betti bahkan mengajarkan bagaimana caranya agar dagangan mereka laku. Selain itu Betti juga mengajar kelas jurnalistik. Ini agar anak-anak, terutama yang duduk di kelas 3 bisa pintar bercerita dengan cara dipancing lewat cerita. Lalu, dari situ mereka bisa memberikan tanggapan. Agar komunikasi antara orangtua dan guru tetap konsisten, diadakan pula sesi parenting di sekolah. Sesi parenting ini diadakan per kelas di sekolah agar peserta dan yang bertanya bisa banyak. Tentu sangat beda kalau diadakan satu sekolah, kemungkinan sedikit yang datang. Betti yang menjabat sebagai Kepala Harian di SD tersebut juga rajin mengupload kegiatan di sekolahnya ke akun Facebook sekolah. Ini bertujuan agar para orangtua bisa melihat gambaran dan memahami kegiatan anak-anaknya.

Menurut Betty, masih banyak yang beranggapan sekolah bagus itu pasti mahal. Banyak orangtua yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah yang didirikan Betty ini, tapi masih ragu-ragu karena takut dikenakan biaya mahal. Karena bangunan sekolah memang tampak bagus, dan pakaian seragam murid-muridnya juga selalu terlihat rapih. Padahal, sekolahnya juga memberikan biaya gratis bagi anak yatim, dan separuh biaya bagi anak yang tidak mampu. Betti berharap setiap guru tidak pernah lelah dan harus kreatif saat mengajar. Jangan sampai jadi guru yang malas dan banyak mengeluh. Saat sekolah kotor, Betti pun tidak ragu turun sendiri untuk menyapu. Kepada anak-anak muridnya ia ceritakan, bahwa di luar negeri orang yang buang sampah sembarangan akan didenda. Akhirnya, Betti pun mengenakan denda kepada murid yang buang sampah sembarangan, sebesar Rp 20.000. Tapi bagi yang mengingatkan temannya, lalu melapor ke dirinya, dapat uang jajan Rp 2000.

Pertama-tama, banyak laporan yang masuk, tapi uang denda tidak ada. Dan ternyata, tidak sampai mengeluarkan uang Rp 20.000 pun, sekolahnya sudah bersih. Sepertinya, murid-muridnya sudah mengerti dan kasihan melihat dirinya selalu menyapu sekolah. Selain itu menurut Betti, para guru juga harus sering mengikuti pelatihan. Kalau tidak, sepertinya sudah puas dengan kemampuannya. Tapi setelah mengikuti pelatihan, matanya akan terbuka. Betti merasa, dia termasuk orang yang berani mengambil sikap atau berspekulasi.

Betti lalu membagi prinsip hidupnya, yaitu tidak pernah mengatakan capek, sesakit apapun dirinya. Bila capek, ia lebih memilih tidur dan jarang minum obat. Vitamin alaminya setiap pagi adalah minum lemon dengan air panas. Betti pun juga berusaha membagi waktu untuk keluarganya. Meskipun sibuk, ia harus tetap memasak untuk anak dan suaminya. Anak-anaknya pun merasa bangga bisa membawa bekal setiap hari dari rumah. Ke depan, masih ada keinginan Betti yang sedang berusaha ia wujudkan, yaitu menulis buku tentang bagaimana menjadi guru PAUD. Baginya, mengajar itu sama seperti memasak. Kalau ada bukunya tinggal dibuka lalu diolah. Ada resep bagaimana caranya mengajar.

6 komentar:

  1. Informatif & inspiratif...kbtulan skolah kami sdh menerapkan pembiasaan tsb tp memang blm bs maksimal...mksih

    BalasHapus
  2. Semoga cita-cita ibu menulis ttg PAUD terwujud

    BalasHapus
  3. Blognya bagus, Bu. Senang membacanya.

    BalasHapus
  4. Masya allah bu luar biasa perjuangan ibu

    BalasHapus
  5. Sangat mengispirasi, terimakash bu....

    BalasHapus
  6. Kereenn.. Semangatnya tak kenal lelah..

    BalasHapus